Trivia Club : Hubungan Kota dan Estetika Visual

Seperti pada umumnya kota-kota besar di dunia, mulai dari New York, London, Berlin, Paris atau Melbourne, seni jalanan (street art) merupakan denyut nadi yang menghidupkan dan menggairahkan kota itu sendiri. Beberapa kota besar di Indonesia, misal saja sebut Yogyakarta, Jakarta, hingga Bandung, terlihat sudut-sudut kota yang terhiasi seni semacam ini. Seni-seni yang tampil di ruang dan jalan kota ini memiliki fungsi tak hanya memperindah sudut-sudut kota, melalui beragam gambar dan warna-warninya. Beberapa hadir menyiratkan suatu pesan dan kritik sosial. Inilah seni yang memang hadir di ranah publik.

            Seniman tak pernah hadir dalam ruang sunyi. Disadari atau tidak, kota memiliki pengaruh yang cukup kuat dalam praktik berkesenian. Inspirasi kota dari warganya, kehidupannya, lanskapnya, gaya hidupnya, modernitasnya, dan kompleksitasnya telah memberikan pemaknaan-pemaknaan baru untuk seniman berkarya. Pemilihan medium jalanan dan kota sebagai sebuah wadah untuk menyampaikan ekspresi dan aspirasi telah berkembang sedemikian rupa. Pada sesi pertama Trivia Club Conference, yang diadakan di Gudang Tekstil East Point Temporal, 7-8 Mei 2016 ini memberikan gambaran-gambaran bagaimana pengaruh kota dalam seni – terutama seniman jalanan (street artist). Empat orang seniman jalanan, yaitu Mufti “Amenkcoy” Priyanka, Yudhi “The Yellowdino” Andhika, hingga dua seniman dari luar negeri, Suiko dari Jepang dan Katun dari Malaysia, hadir mempresentasikan karya-karya mereka yang terinspirasi dari kota dan segala hiruk pikuknya.

            “Karya-karya saya banyak terinspirasi dari lingkungan saya tumbuh dulu di Kiaracondong, sebuah daerah padat di mana banyak persoalan sosial didalamnya,” tutur Amenk. Kiaracondong sendiri adalah nama sebuah kawasan di pinggiran Bandung yang padat. Hal itu mungkin terlihat dari karya-karya ilustrasi Amenk yang banyak dengan kritik sosial didalamnya. Karya-karya Amenk banyak menampilkan potret warga dan kesehariannya, dan membenturkan nilainya secara langsung seperti gambar seorang anak punk yang mencium tangan kedua orang tuanya – yang terlihat seperi bapak haji.

            Pada karya yang lain, seniman jalanan Yudhi Andhika yang lebih dikenal dengan nama The Yellowdino lebih menyoroti bagaimana pengalamannya ketika menggambar di jalanan kota Bandung. Karya-karyanya yang identik dengan dinosaurus berwarna kuning ini memang lebih banyak terinspirasi dari budaya popular Jepang. Namun, warga Bandung yang cenderung apresiatif, menurut Yudhi, memungkinkan dia bisa berkarya lebih baik.

            “Ada pengaruh sih dari warga kota, ada seorang teman dari Jakarta bilang kalau gambar di sembarang tembok orang bisa panjang urusannya. Beda kalau di Bandung, karena warganya sendiri yang someah (ramah) jadi masih bisa dikompromikan,” ujar Yudhi sambil tertawa. Menurutnya juga ada tantangan berbeda ketika menggambar di siang dan malam hari. Kalau di siang hari, persoalannya palingan sama warga. Tapi menariknya juga warga bisa mengapreasiasi. Sedangkan kalau malam hari, harus mengakali patroli polisi. Meskipun demikian Yudhi berujar bahwa Bandung cukup kondusif untuk berkarya di ruang publik karena faktor warganya yang apresiatif.

               Seniman dari Jepang, Suiko, bernasib lebih apes. Bahkan di Jepang, dirinya berulang kali harus masuk bui gara-gara menggambar di jalanan. Namun, melihat karya-karyanya yang banyak menampilkan gambar-gambar binatang semisal penyu, ayam, ikan, cumi-cumi, dll. Yang paling menarik adalah binatang-binatang tersebut merupakan ikon atau symbol dari kota-kota yang digambarinya. Secara tidak langsung, Suiko lebih banyak mengobservasi kehidupan di sekitarnya dan kemudian menafsirkannya melalui gambar-gambar berbentuk binatang.

            Sedangkan, Katun dari Malaysia bercerita soal kondisi seni jalanan di negaranya berasal. “Di Kuala Lumpur (Malaysia), banyak orang bilang kalau graffiti itu no future dan no life. Makanya perlu keluar negara,” ujar Katun. Katun juga becerita kondisi pemerintah Malaysia yang cenderung ketat membuat karya-karya graffiti di sana tak banyak yang mengkritisi isu-isu sosial atau politik. Hal ini berpengaruh pula pada karyanya yang lebih cenderung menampilkan karakter bergaya “funky, terutama melalui ikon monyet yang menjadi ciri khasnya. Melalui jaringan pertemanan membuat Katun kini bisa berkarya di tembok-tembok jalanan di berbagai kota. “Grafitti menghubungkan semua orang,” tuturnya.

 

***