Trivia Club : Politik dan Kebebasan Berekspresi di Ruang Publik

Konflik-konflik yang melibatkan persoalan kebebasan berekspresi di ruang publik  Kota Bandung akhir-akhir ini menyita perhatian. Tindakan represif yang dilakukan oknum-oknum ormas maupun aparat telah mengancam praktik berkesenian sebagai salah satu hak asasi yang dijamin oleh negara. Lemahnya peran negara juga membuat ancaman-ancaman serupa akan terjadi pada kota yang menjamin hak warganya untuk berkarya dan berkreasi. Hari ini, kebebasan berekspresi di ruang publik telah menjadi bagian dari politik keseharian para seniman untuk tetap bertahan. Kontestasi kekuasaan pun merupakan praktik-praktik yang harus terus dihadapi oleh seniman-seniman terutama yang hidup di kota besar baik sebagai ancaman maupun tantangan.

            “Sepanjang tahun ini saja saya mencatat ada sekitar 36 kasus pelanggaran kebebasan berekspresi di ruang publik,” ujar Wanggihoed, seniman pantomime yang menjadi pembicara dalam Street Stage: Trivia Club Conference sesi 3 pada Minggu, 8 Mei 2016, di Gedung East Point Temporal, bersama Iweng (seniman) dan Heru Hikayat (curator). Terakhir Wanggi mengalami nasib serupa ketika sedang tampil di jalan asia afrika merayakan Festival Tubuh yang membuat dirinya terpaksa berurusan dengan aparat.

            “Saya mulai berkarya di ruang publik sejak tahun 2011. Dari dulu juga sudah mulai terbiasa untuk mengurusi perizinan, namun kadang pihak aparat sendiri tidak tahu apa (seni) yang sedang kita lakukan. Bahkan konsep ataupun proposalnya sendiri jarang dibaca,” ujar Wanggi.

            Hal berbeda dialami oleh Irwan Bagja Darmawan yang akrab disapa Iweng ini. Dia justru memulai berkarya di ruang publik sejak 2001 di luar Indonesia, tepatnya di Havana, Kuba. Kemudian ketika kembali ke Indonesia, Iweng sendiri mulai aktif untuk berkarya memanfaatkan ruang publik berupa tembok-tembok kota. Salah satu karyanya yang paling terkenal yaitu “A Gift For City”  berupa mural terpanjang di Indonesia yang digambar di sepanjang jembatan Pasupati, Bandung. Sayangnya mural ini terpaksa “hilang” ketika akan berlangsung Konferensi Asia Afrika setahun lalu. Uniknya, ketika proses menggambar ini malah dia mendapat dukungan dari warga hingga aparat pemerintah.

            “ Camat bahkan menjanjikan akan mempermudah proses kalau saya ada persoalan izin administrasi. Mungkin semacam ucapan terima kasih karena sudah digambarin. Pernah pas gambar malam hari juga ada aparat polisi datang dan malah mengacungkan jempol,” ujar Iweng sambil tertawa.

            Kurator Heru Hikayat justru memperlihatkan bahwa ketika seniman berkarya di ruang publik tidak akan selalu mudah dan cenderung akan ada kesewenang-wenangan. Belum lagi akan selalu muncul kontestasi dari pihak penguasa hingga capital. Dirinya memperlihatkan gambar mural karya Act Move yang bertuliskan “Mencari Suaka di Tanah Sendiri” dan bercerita soal dua orang seniman mural di Australia yang ditangkap gara-gara menyebarkan gambar anti-perang di Gedung Teater Sydney di saat kebijakan luar negeri Australia yang terlibat bareng Sekutu di Perang Irak.

            “Kalau melihat kasus pada Wanggi dan Iweng justru ada kesewenang-wenangan didalamnya. Kelakuan Iweng sudah jelas itu pelanggaran tapi kok malah didukung oleh aparat pemerintah dan polisi, itu juga kesewenang-wenangan. Terus kelakuan oknum aparat yang mengintimidasi Wanggi yang sewenang-wenang. Hal ini berbeda dengan situasi yang ada di Australia karena koridor hukumnya jelas. Nah yang jadi permasalahan di sini adalah ketika berkarya memanfaatkan ruang publik, karena koridor hukumnya yang belum jelas. Justru Street Art di kita dimanjakan karena hukumnya sendiri yang belum jelas ini,” papar Heru Hikayat.

                Menurut Heru, secara lebih jauh pentingnya seniman yang berkarya di ruang publik untuk belajar dan mengerti hukum. Hal itu merupakan strategi yang relevan agar seniman tidak tersandung kasus-kasus serupa.

            “Inilah pentingnya seniman mengerti proses hokum. Kalau saya jadi Wanggi misalnya, apa bedanya sih yang dia lakukan dengan orang-orang silver di jalanan sama penggemar cosplay? Kan sama-sama saja,” ujar Heru.

            Kontestasi selalu terjadi ketika memanfaatkan ruang publik. Seniman akan berhadapan dengan segala kepentingan. Namun. Kesenian yang mampu mendekatkan karyanya dengan publik justru akan membuat seni itu memiliki peranan cukup besar dalam menggugah kesadaran publik baik disengaja maupun tidak disengaja.

 

***