Trivia Club : Dinamika Multimedia dalam Praktik Berkesenian

Perkembangan teknologi dan media telah mengubah praktik berkesenian yang telah ada selama ini. Terutama perkembangan internet sebagai media publik. Wajah teknologi yang memiliki irisan dengan praktik-praktik berkesenian memunculkan kemungkinan-kemungkinan baru para seniman untuk terus berkarya dan menggali terus berbagai kemungkinan yang ada. Bagaimana teknologi dan media telah mengubah lebih jauh praktik seni atapun sebaliknya bagaimana seni telah mengubah kemampuan teknologi merupakan wacana yang selalu menarik untuk dibahas.

Pada sesi kedua dalam Trivia Club Conference, yang diselenggarakan pada Sabtu, 7 Mei 2016, menghadirkan tiga seniman yang dikenal “ngoprek” teknologi, terutama yang ada kaitannya dengan media, yaitu Adi Panuntun (Sembilan Matahari), Fluxcup, dan kolektif Tromarama. Satu hal menarik dalam sesi ini mengulas tentang inovasi-inovasi yang berkaitan dengan media terutama dalam praktik seni. Seperti yang dilakukan oleh Tromarama. Grup yang satu ini dikenal sebagai pembuat video klip music lewat gaya stop-motionnya. Grup yang mulai dikenal juga dengan video-klip Seringai dan RNRM ini juga senantiasa menggunakan objek atau artefak dalam setiap videonya. Seperti menggunakan cukil kayu dalam klip Seringai dan kancing pada klip RNRM.

“Kami melakukan stop-motion itu dari keterbatasan,” ujar Ruddy Hatumena dari Tromarama dalam presentasinya. “Kemudian kami juga selalu tertarik dengan objek-objek sekitar,” ujarnya.

Presentasi berikutnya, Adi Panuntun menuturkan beberapa karya video dari Sembilanmatahari. Menurutnya, ide-ide videonya selalu didasari pada satu pesan sosial yang ingin disampaikannya, dan teknologi video menjadi medium pesan tersebut.

“Pada video mapping Gedung Sate, kami hanya ingin memberikan pesan tentang ruang publik yang ada di Kota Bandung. Kami menjadikan ini sebagai intervensi ruang publik karena yang mengaktivasi ruang publik kini datang justru dari warganya,” ujar Adi Panuntun dalam presentasinya.

Dia juga berujar bahwa lewat teknologi kini pesan-pesan sosial atau masyarakat tak hanya disampaikan melalui demonstrasi di gedung sate. Tapi melalui teknologi justru mampu membuat masyarakat lebih tertarik.

“ Saya justru membuat mapping Gedung Sate kebakaran,” ujarnya sambil tertawa. Pada video animasi yang berjudul “Naradewa” Adi mengisahkan tentang sosok seorang pahlawan yang senantiasa menjaga lingkungan sekitarnya. “Kalau saya ketika membuat video harus ada isu atau aspirasi yang disampaikan,” ujarnya.

Agak berbeda dengan Adi Panuntun yang memiliki misi sosial, pemateri ketiga yang dikenal dengan video-video humor dan satirnya, Fluxcup, justru mempertontonkan karya-karya videonya yang mampu mengocok perut penonton. Dia dikenal lewat video-video parodinya melalui teknik dubbing dan lip-synchonization.

“Kalau karya saya mungkin lebih ke alternatif kali yah. Makanya di Youtube ditulisnya tontonan alternatif,” ujar Fluxcup yang memiliki jutaan subscriber di Youtube. Menurut Fluxcup yang tampil sebagai alter-ego ini mengaku dirinya berkarya hanya mengomentari apa yang terjadi pada kesehariannya.

“ Kerjaan saya yah tiap hari nongkrong di depan internet,” ujarnya. Makanya, karya-karya Fluxcup lebih seperti komentar terhadap gejala-gejala budaya pop yang sedang diomongkan atau dicibirkan banyak orang. Dia membuat parody dari nama-nama artis besar seperti Thom Yorke, Trent Reznor, Ariana Grande, hingga video Arya Wiguna yang viral itu. Semua dibuat menjadi lucu melalui gaya Fluxcup yang unik. Wacana mengenai seni dan teknologi media ternyata memiliki pengaruh tak sebatas pada proses kreatif dan pengaruhnya pada para seniman. Peran seperti institusi pendidikan berbasis seni yang juga belum terlalu akrab dan terbuka terhadap keterbukaan teknologi membuat para mahasiswanya untuk mengeksplorasi segala kemungkinan di tengah teknologi yang terus berkembang saat ini. Dibalik itu semua, era sekarang para seniman dituntut untuk terus mampu berinovasi dan mengeksplorasi karena sudah memasuki era keterbukaan teknologi dan akses ruang publik yang memungkinkan apapun bisa terjadi.